Selamat Datang
di Kasepuhan Sinar Resmi
Sara Mokaha Nagara

Selayang Pandang

Kesatuan adat Banten kidul, adalah komunitas masyarakat adat yang tersebar di sekitar kawasan Taman Nasional Gunung Halimun yang termasuk wilayah Provinsi Jawa Barat dan Banten.Komunitas yang terdiri dari beberapa “Kasepuhan” ini, secara etnis adalah Urang Sunda sebagaimana juga komunitas kanekes yang lebih terkenal dengan sebutan Urang Baduy.

Lokasi

Berdosimili di desa Sirna Resmi, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat, namun banyak incu putu kasepuhan Sinar Resmi yang berdomisili diluar Desa Sirna Resmi bahkan ada diantaranya yang berdomisili di wilayah Provinsi Banten.

Masyarakat

Dipimpin oleh seorang pemangku adat atau kasepuhan bernama Abah Asep Nugraha. Abah Asep dan masyarakat adatnya yang dikenal dengan sebutan: incu putu.

Kearifan Lokal

Warga adat banten kidul ini tidak sepenuhnya berpegang pada “buyut” dan tali paranti kanekes, akan tetapi secara umum, kehidupan mereka sehari-hari banyak diwarnai oleh adat kebiasaan orang kanekes, terutama dalam kearifan menyikapi alam dan lingkungan. Kasepuhan Sinar Resmi hingga saat ini masih memiliki dan memelihara kelestarian benih padi sekitar 64 jenis varietas padi lokal terdiri dari padi huma dan padi sawah.

Artikel

Tulisan mengenai alam, adat dan masyarakat sekitar Kasepuhan Sinar Resmi.

Bangunan Vernakular

Syarifa Putri Ramadhanty

Tumbuhan Obat

Faishal Mahdi

Manifestasi Kebersamaan dan Solidaritas Kekerabatan

Hening Ginanjar

Ziarah: Kecintaan terhadap Leluhur

Gde Aditya Widyatama

Acara Adat

Sepintas acara adat di Kasepuhan Sinar Resmi

  • Silih Mulud

    Ngabaladah

    Menyiangi ladang


    Disalametan Nganyaran

    Selamatan sebagai tanda syukur memasak padi pertama kali

  • Jumadil Awal

    Ngambangkeun

    Mengisi lahan dengan air/merendam


    Narawas

    Menandai lokasi yang akan dijadikan huma


    Nyacar

    Membersihkan lahan, biasanya selama 1 minggu setelah dikeringkan selama 15 hari-1 bulan

  • Jumadil Akhir

    Tebar/ngipuk

    Membuat persemaian padi dengan cara menebar untaian padi


    Ngahuru

    Membakar semak kering untuk dijadikan pupuk


    Ngerukan

    Mengumpulkan sisa-sisa yang belum terbakar


    Ngaduruk

    Membakar sisa-sisanya


    Nyara

    Meremahkan tanah

  • Rajab

    Ngaseuk

    Penanaman bibit padi dengan menggunakan tongkat atau aseuk

  • Ruwah

    Ngangler

    Membersihkan lahan dari gulma untuk persiapan tebar.


    Tandur

    Menanam padi


    Ngored

    Menyiangi rumput

  • Puasa

    Ngarambet

    Membersihkan gulma yang ada di sawah

  • Syawal

    Babad Galeng

    Membersihkan rumput di pematang sawah

  • Haji

    Dibuat ku etem/neugel

    Panen padi dengan alat etem/ani-ani


    Mipit/Dibuat

    Memotong padi /panen


    Ngadamel lantayan

    Membuat tempat jemuran padi


    Ngantalay

    Menjemur padi di lantayan

  • >

    Sapar

    Mocong Pare

    Mengikat padi menjadi pocong


    Diangkut ke leuit/ngunjal

    Mengangkut padi ke leuit/lumbung


    Ngaleuitkeun

    Memasukkan padi ke leuit/lumbung


    Diulep ke leuit

    Merapikan padi di dalam leuit/lumbung


    Ngadiukkeun Indung

    Memasukkan padi induk ke dalam leuit

  • Muharam

    Mocong

    Mengikat padi yang kering


    Ngunjal

    Diangkut ke lumbung padi


    Ngaleuitkan

    Memasukkan ke lumbung


    Ngeleupkeun

    Dirapikan


    Ngadieukeun indung pare

    Menyimpan padi ke dalam leuit


    Selametan

    Ampih pare


    Numpang Galeng

    Menyiangi lahan

Struktur Adat

Kasepuhan Sinar Resmi dipimpi oleh seorang Kepala Kasepuhan yang dikenal dengan Abah dan dalam kepemimpinannya dibantu oleh Incu Putu.

Incu Putu

Pemangku Adat Kasepuhan Sinar Resmi

Abah Asep Nugraha

Abah dan Ambu

Masyarakat adat Kasepuhan Sinar Resmi tidak pernah terlepas dari filosofi hidup, “tilu sapamulu, dua sakarupa, hiji eta-eta keneh”, yang secara harfiah artinya ‘tiga se wajah, dua se rupa, satu yang itu juga”. Tata nilai ini mengandung pengertian bahwa hidup hanya dapat berlangsung dengan tiga syarat, yaitu (1) tekad, ucap dan lampah, (niat atau pemikiran, ucapan dan tindakan) harus selaras dan dapat dipertanggung jawabkan kepada incu-putu (keturunan warga kasepuhan) dan sesepuh (para orang tua dan nenek moyang); (2) jiwa, raga dan perilaku, harus selaras dan berahlak; (3) kepercayaan adat sara, nagara, dan mokaha harus selaras, harmonis dan tidak bertentangan satu dengan lainnya

Hubungi Kami